Kamis, 09 Februari 2017 - 13:49:23 WIB,  Diposting oleh : Admin

Kewirausahaan Sosial Pemuda, Solusi Yang Sangat Strategis

Oleh Tutut Bina S, Kasubbid Fasilitasi Permodalan pada Asdep Kewirausahaan Pemuda

Jumat siang, usai sholat di masjid Ar Rahmah Rempoa, dagangan soto Sokaraja di depan ruko tiga lantai Jalan Pahlawan Rt 03 Rw 09 itu langsung diserbu puluhan anak anak, remaja hingga orang tua. Apakah sotonya enak? Mungkin. Tapi ada yang lebih istimewa. Jumat adalah hari yang ditunggu-tunggu banyak orang di sekitar ruko untuk makan soto gratis. Gratis? iya, gratis. Ipan, sang pengelola usaha  menamainya Jumat Barokah.

Mungkin hal ini tak lagi terasa asing bagi kita. Kini,di sekitar kita selalu saja ada orang-orang yang peduli lingkungannya dengan caranya masing-masing. Seperti Ipan dan teman-temannya di bawah Yayasan Bakti Pemuda. Yayasan ini melakukan berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan seperti pemberian beasiswa, bimbel gratis, pelatihan dan pembinaan kegiatan kewirausahaan. Bahkan di yayasan ini terdapat beberapa unit usaha yang menjadi motor pendanaan selain donatur yayasan. Usaha yang ada yaitu Soto Sokaraja, Andes Coklat dan Mi Ketawa.

Menarik memang jika kita mengamati bagaimana yayasan ini dan juga banyak lembaga sosial lainnya berkiprah. Jika selama ini yayasan yang menaungi masyarakat miskin, yatim dan sebagainya identik dengan "proposal", kini  telah banyak berkembang lembaga sejenis yang berusaha eksis dan menjaga kesinambungan kegiatannya dengan tidak seratus persen bergantung pada donasi, melainkan dengan menjalankan kegiatan kewirausahaan.

Kewirausahaan ternyata tidak lagi dilihat sebagai kegiatan ekonomi yang berprinsip dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar besarnya, tetapi kewirausahaan juga telah menjadi pendukung melakukan berbagai kegiatan filantropi. Inilah yang kemudian disebut sebagai kewirausahahan sosial (social enterpreneur).

Apa Itu Kewirausahaan Sosial?

Istilah kewirausahahan sosial, menurut Schawb adalah transformasi ide yang berlanjut pada keberlanjutan lingkungan dan atau isu sosial menjadi produk barang atau jasa.1 Hal ini mencakup tujuan-tujuan sosial yang menjadi tujuan utama dan  mereka menginvestasikan kembali keuntungan mereka pada perusahaan atau masyarakat2.

Awal istilah ini muncul pada tahun 70an. Secara global, pada kisaran 2006  kewirausahaan sosial menjadi sangat populer dengan adanya Grameen Bank oleh Muhammad Yunus di Pakistan. Yunus memberikan bantuan modal bagi kaum miskin dengan sistem kelompok dan tanggung renteng. Gerakannya memberikan perspektif baru bagaimana memberikan kepercayaan kepada kaum miskin dalam mengelola modal yang diberikan untuk melakukan usaha.

Indonesia sebenarnya sudah lama mengenal kewirausahaan sosial. Secara kelembagaan kita mengenal koperasi yang tujuan utamanya adalah mensejahterakan  dan mengatasi berbagai permasalahan ekonomi anggotanya.

 

Jenis-jenis Kewirausahaan Sosial di Indonesia

Para ahli menggolongkan kewirausahaan sosial yang ada di Indonesia menjadi empat macam yaitu kewirausahaan sosial berbasis komunitas, kewirausahaan nirlaba, kewirausahaan sosial hibrida dan kewirausahaan sosial untuk mencari keuntungan3.

Kewirausahaan sosial berbasis komunitas berawal dari kebutuhan masyarakat yang memiliki kondisi kebutuhan, kepentingan dan masalah yang sama. Secara umum konsumen juga penerima manfaat. Termasuk jenis ini adalah koperasi.

Kewirausahaan nirlaba dibentuk untuk memberikan dampak sosial oleh orang orang yang peduli masalah lingkungan dan ingin mengatasi masalah tersebut, bukan oleh masyarakat yang bermasalah. Kewirausahaan ini biasanya mendanai kegiatan dari sumbangan dan sebagian kecil dari kegiatan usaha yang dilakukan.

Jenis kewirausahaan sosial hibrida umumnya memiliki keberlanjutan dan pengembangan berorientasi target. Komposisi berimbang antara dana sosial, semi komersial, dan komersial. Perusahaan-perusahaan model ini menghasilkan sebagian besar pendapatan mereka dari penjualan barang dan jasa. Akan tetapi beberapa persentase kecil dari anggaran mereka masih berasal dari sumbangan.

Sedangkan kewirausahaan sosial yang mencari keuntungan memiliki target keberlanjutan, serta pengembangan dan pertumbuhan usaha. Keuntungan diperoleh dari penjualan barang dan jasa, lalu dikembalikan lagi ke dalam usaha agar sepenuhnya independen dan terlepas dari penyandang dana kelembagaan.

 

Kewirausahaan Sosial Pemuda, Sebuah Solusi

Program kewirausahaan sosial tampaknya sangat strategis untuk menyelesaikan beberapa masalah sekaligus. Usaha Andes Coklat dan Soto Sokaraja misalnya terlihat mampu memberikan lapangan pekerjaan, mengeratkan ikatan sosial dengan membangun kepedulian sosial (gerakan Jumat barokah), menyelesaikan masalah pendidikan dengan beasiswanya dan bahkan ikut membangun karakter pemuda.

Di yayasan ini tidak semua yang terlibat adalah pengurus yayasan, tetapi banyak pula anak muda sekitar yang ikut menjadi relawan untuk operasional yayasan. Semangat yang dibangun dalam kegiatan wirausaha yang dilakukan bukan hanya mencari keuntungan, tetapi kontribusi apa yang dapat mereka berikan kepada lingkungan untuk membantu mengatasi permasalahan.

Begitu juga dengan Gamal Albinsaid, inisiator pengembangan klinik asuransi premi sampah sekaligus CEO dan pendiri Indonesia Medika. Dokter muda lulusan Universitas Brawijaya ini bahkan telah menerima penghargaan The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur  First Winner 2014, yang diselenggarakan oleh Unilever dan Cambridge University.

Penghargaan itu merupakan kehormatan dari Pangeran Charles kepada enterpreneurship muda yang peduli di bidang sumberdaya berkelanjutan. Apa yang dilakukan Gamal jelas sangat berkontribusi pada peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, dan sekaligus juga mengatasi masalah lingkungan.

Jelas sekali, kewirausahaan sosial yang melibatkan banyak pemuda memang dapat menjadi alternatif solusi bagi berbagai permasalahan masyarakat di Indonesia. Tidak saja masalah kepemudaan itu sendiri, tetapi juga masalah kenakalan remaja, penurunan kualitas lingkungan, pengangguran pemuda, dan lain sebagainya.

Pengangguran terbuka pemuda Indonesia pada tahun 2014 saja sekitar 14,97 persen. Angka ini berarti bahwa secara rata-rata dari setiap 100 pemuda angkatan kerja,  sebanyak 14 sampai 15 pemuda belum mempunyai pekerjaan4. Ini menjadi salah satu catatan dalam pembangunan kepemudaan kita.

Bonus demografi Indonesia juga merupakan isu penting dalam pembangunan kepemudaan. Pemuda akan menjadi salah satu komponen besar dalam bonus demografi Indonesia yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2028-2031 dengan angka ketergantungan pada tingkat terendah yaitu 4,76. Artinya jumlah penduduk usia non produktif (<14 tahun dan >64 tahun)  lebih sedikit dibandingkan penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang termasuk di dalamnya adalah usia pemuda (16-30 tahun)5.

Meskipun data proyeksi jumlah penduduk saat bonus demografi tidak menyebutkan berapa persen komposisi pemuda di dalamnya, tetapi sudah pasti pemuda sebagai komponen usia produktif memiliki peran penting dalam upaya mengoptimalkan bonus demografi tersebut agar benar- benar menjadi bonus, bukan sebaliknya.

Kewirausahaan Sosial di Indonesia

Melihat peran strategis pemuda dengan segala potensinya maka kewirausahaan sosial pemuda bisa menjadi salah satu harapan. Di dalamnya terjadi proses yang berkontribusi penting dalam pembangunan masyarakat, pembangunan karakter, pengurangan pengangguran, pengentasan kemiskinan, dan penyelesaian permasalahan sosial serta lingkungan lainnya.

Sayangnya, meskipun telah banyak praktek kewirausahaan sosial di Indonesia, namun hingga saat ini belum ada regulasi yang spesifik mengatur tentang kewirausahaan sosial. Program pemerintah juga belum banyak yang menyentuh program ini.

Melihat peran pemuda yang sangat strategis ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga pada September tahun 2016 bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada, mengadakan kegiatan Kompetisi dan Expo Sociopreneur Muda (SOPREMA). Kegiatan ini menjaring para pemuda visioner untuk menjadi wirausaha sosial muda melalui kompetisi penyusunan rencana bisnis (bussines plan) kewirausahaan sosial di lingkungannya.

Tidak mengherankan, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama,  proposal yang masuk mencapai dua ratus lebih. Artinya potensi kewirausahaan sosial di kalangan pemuda memang sangat besar.

Indonesia dapat menjadi ladang subur kewirausahaan sosial. Beberapa hal yang mendukung antara lain finansial, budaya, sumberdaya manusia dan kondisi pasar serta lokasi geografis. Dari sisi finansial kita melihat adanya ketersediaan dana yang disiapkan pemerintah dengan berbagai program pemberdayaan berbasis wirausaha. Begitu juga dari  swasta dan BUMN dengan CSRnya, dan juga dari LSM dan para investor. Meskipun dalam masalah sosialisasi memang masih harus lebih digencarkan.

Budaya Indonesia yang terkenal dengan gotong royong juga menjadi salah satu pendukung suburnya pertumbuhan kewirausahaan sosial. Bangsa Indonesia masih kental dengan nilai kolektivitas (collectivism value). Collectivism disini mengacu pada istilah dari Hofstede (2010)6 yang digambarkan bahwa pada masyarakat kolektifitas (collectivism) individu  bertindak terutama sebagai anggota kelompok seumur hidup.

Daya kohesifitas yang tinggi tercipta dalam kelompok masyarakat ini. Orang- orang di dalamnya seperti keluarga besar yang dijadikan tempat perlindungan bagi dirinya sehingga loyalitasnya tidak diragukan dan keharmonisan hubungan satu sama lain menjadi salah satu orientasi utama masyarakat dengan budaya ini.

Dari sisi pasar produk/jasa yang dihasilkan, kewirausahaan sosial memiliki peluang besar untuk berkembang. Sebagai gambaran, dalam empat tahun ke depan (tahun 2020), tingkat pendapatan masyarakat Indonesia diprediksi akan mencapai sekitar USD 10.000 atau sekitar 100 juta/orang/tahun (sekitar 8,3 juta/orang/tahun)7.  Artinya ini pasar yang sangat potensial untuk berbagai produk. Maka diharapkan sektor sektor wirausaha kita mampu menyediakan pasokan kebutuhan sekian banyak masyarakat tersebut.

Sumberdaya alam yang melimpah dan kekayaan budaya Indonesia di ribuan pulau juga menjadi salah satu faktor yang akan mendukung majunya kewirausahaan sosial. Sebagai contoh adalah Haris Purnawan dari Wonosari, Gunung Kidul yang menggagas wirawisata dengan memanfaatkan potensi alam desanya yang memiliki 12 gua, sungai serta areal sawah yang menarik sementara di sisi lain banyak pemuda desa yang menganggur.

Wirawisata  “Goa Pindul” yang diusungnya menjadi terkenal, bahkan pada tahun 2014 memperoleh penghargaan dari bank Danamon sebagai salah satu kewirausahaan sosial terbaik di Indonesia. Kiprah Haris juga menggambarkan bahwa menjadi seorang wirausaha harus mampu mengawali proses pemberdayaan dengan melakukan pemetaan sosial dan sumber daya alam.

Pada akhirnya, jika kita ingat jargon Soekarno “beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia”.  Kita juga harus yakin, jika dari 61,83 juta pemuda8 di Indonesia yang ada saat ini banyak yang tergerak untuk melakukan wirausaha sosial maka akan sangat membantu masyarakat kita untuk keluar dari berbagai permasalahan. Kita patut berbangga dengan pemuda Indonesia, seperti Gamal  Albinsaid, Haris Purnawan atau Ipan  yang selain mandiri, juga mampu berkontribusi dan menginspirasi lingkungannya, bahkan dunia.

 

Daftar Pustaka

  1. Schwab, K. (2008), “Global corporate citizenship; working with governments and civil society”, Foreign Affairs, Vol. 87 No. 1, pp. 107-13
  2. Morris, M. (2007), “Social enterprise’s crowning glory”, New Statesman, May 21, pp. 28-30.
  3. Yulius, et.al. (2015) The Art Of Sustainable Giving. Jakarta: The Boston Consulting Group.
  4. Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, (2015), Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014.
  5. Kementerian Komunikasi dan Informatika, (2014), Siapa Mau Bonus? Peluang Demografi Indonesia. Ebook.
  6. Dimensi Budaya Indonesia. (2016, 19 Maret). Dimensi Budaya (Geert Hofstede). Diperoleh 24 Januari 2017 dari https://budayaindonesia2016blog.wordpress.com/2016/03/19/dimensi-budaya-geert-hofstede/.
  7. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI),Diperoleh 24 Januari 2017 http://www.indonesia-investments.com/id/proyek/rencana-pembangunan-pemerintah/masterplan-percepatan-dan-perluasan-pembangunan-ekonomi-indonesia-mp3ei/item306.
  8. Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, (2015), Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014.